Kota Banjar, 9 November 2025 – Dewasa ini, semakin banyak anak muda terjebak dalam jurusan kuliah atau pekerjaan yang sebenarnya tidak mereka inginkan. Tekanan eksternal—mulai dari ekspektasi orang tua, tren prospek kerja, hingga standar sosial—sering kali mendorong seseorang memilih jalur yang tidak sesuai dengan kekuatan dirinya. Data tahun 2021 menunjukkan bahwa sebanyak 87% mahasiswa di Indonesia salah jurusan, sebuah angka yang mencerminkan betapa seriusnya masalah ketidaktepatan pilihan ini. Dalam situasi tersebut, kebingungan internal tentang potensi diri juga menjadi tantangan besar bagi generasi muda, yang sering kali tidak mengetahui kekuatan utama yang bisa dikembangkan.
Di tengah persimpangan antara potensi diri dan ekspektasi sosial, diperlukan kontrol diri yang kuat. Sebelum seseorang mampu mengendalikan langkah dan menentukan arah masa depan, ia perlu terlebih dahulu mengenal dirinya sendiri. Menyadari hal itu, Youth Development Program (YDP) Seri 3 mengusung tema “Unlocking Potential: Strength Awareness for Self & Communities Development”. Tema ini dipilih agar para beaswan KAF 13 dapat memahami dan mengoptimalkan kekuatan dirinya, sehingga berdaya tidak hanya untuk pribadi, tetapi juga untuk masyarakat di sekitarnya.

Peserta menyimak materi narasumber pada YDP Seri 3. (YFMI/Neng Sinta Nadya)
Melalui program ini, YDP Seri 3 membawa tiga tujuan utama: membantu beaswan mengenali kekuatan diri, memotivasi mereka untuk memanfaatkan bakat secara positif, serta memberikan perspektif bahwa pengembangan masyarakat bermula dari pengembangan diri. Selain itu, program ini juga menawarkan berbagai manfaat praktis, mulai dari mengenali bakat produktif melalui 30 tipologi ST-30, mendapatkan inspirasi dari kisah perjalanan pemateri, hingga memperoleh gambaran bidang yang dapat ditempuh dan dikembangkan untuk masa depan.
Pada sesi pertama bertajuk “Self Awareness: Find Your Strength Typology”, para peserta dipandu oleh Faiq Imut Akhiroti, S.T., seorang Talent Mapping Practitioner. Beliau memperkenalkan konsep Talent Mapping dan ST-30 sebagai alat untuk memetakan bakat dan kekuatan personal. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya memahami pentingnya mengenal kekuatan diri, tetapi juga mempraktikkan langsung tes ST-30. Faiq turut menjelaskan cara mengimplementasikan 30 tipologi tersebut dalam aktivitas sehari-hari, baik dalam konteks akademik, organisasi, maupun pengembangan diri jangka panjang. Sesi ini menekankan bahwa setiap individu memiliki kekuatan unik yang, bila dikenali dan dikelola, dapat menjadi modal penting untuk merancang masa depan.

Pengenalan konsep Talent Mapping dan ST-30. (YFMI/Bayu Faisal Nugraha)
Selanjutnya, sesi kedua menghadirkan Muliani Maulidiyah, S.P., Project Officer di Dreamdelion Community Empowerment, dengan subtema “Connect and Cultivate: Elevate Yourself, Develop Communities”. Melalui kisah inspiratifnya dalam dunia pemberdayaan masyarakat, Muliani mengajak beaswan melihat bagaimana pengembangan diri berkaitan erat dengan kontribusi sosial. Ia menekankan pentingnya motivasi internal, keberanian melangkah keluar dari zona nyaman, serta komitmen untuk berproses. Para peserta mendapatkan insight bahwa kontribusi kepada masyarakat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar—kadang cukup dengan mengenali kekuatan diri sendiri terlebih dahulu.

Pengenalan Community Development. (YFMI/Neng Sinta Nadya)
Melalui YDP Seri 3 ini, beaswan KAF 13 diharapkan mampu memahami bahwa perjalanan pengembangan diri bukan sekadar mencari kemampuan teknis, tetapi juga menemukan kekuatan batin yang dapat mengarahkan mereka pada karier, peran sosial, dan kontribusi terbaik bagi masyarakat. Dengan pondasi self-control dan pemetaan kekuatan diri, mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Dokumentasi kegiatan: https://drive.google.com/drive/folders/1avdJaV7gOsUTvIHnd4iB9OtYTcMHK-2x?usp=sharing

